Rumah Guru SD di Pasimasunggu Timur Ludes Terbakar, Jarak Tempuh Damkar Satu Jam Jadi Sorotan

Daftar Isi

 

Potret kejadian saat rumah panggung milik Anting Samsia (28), seorang guru di SD Inpres Mare, Dusun Ujung Utara, Desa Bontobulaeng, Kecamatan Pasimasunggu Timur. ( Photo : Tim)

ZONAREPORT.WEB.ID | SELAYAR — Musibah kebakaran hebat kembali melanda wilayah kepulauan Kabupaten Kepulauan Selayar. Satu unit rumah panggung milik Anting Samsia (28), seorang guru di SD Inpres Mare, Dusun Ujung Utara, Desa Bontobulaeng, Kecamatan Pasimasunggu Timur, ludes dilalap si jago merah pada Rabu (3/6/2026) malam sekitar pukul 19.00 WITA. Insiden ini pun kembali memicu gelombang sorotan dari masyarakat terkait minimnya fasilitas penanggulangan bencana di wilayah luar pulau utama.

Peristiwa tragis tersebut diduga kuat dipicu oleh adanya korsleting atau hubungan arus pendek listrik. Konstruksi bangunan ditambah embusan angin malam membuat kobaran api dengan sangat cepat membesar. Hanya dalam kurun waktu kurang lebih 10 menit, seluruh bangunan beserta isinya nyaris rata dengan tanah.

Meskipun puluhan warga setempat langsung berhamburan ke lokasi dan berupaya memadamkan api, upaya tersebut tidak membuahkan hasil optimal lantaran masyarakat hanya menggunakan peralatan seadanya. Ketiadaan fasilitas pemadam yang memadai di lokasi terdekat membuat warga harus pasrah menyaksikan rumah korban habis terbakar.

Kejadian ini pun langsung menguak fakta memprihatinkan mengenai manajemen darurat di wilayah tersebut. Diketahui, armada pemadam kebakaran (damkar) yang disiagakan untuk melayani dua kecamatan sekaligus—yakni Kecamatan Pasimasunggu dan Pasimasunggu Timur—hanya berjumlah satu unit. Parahnya lagi, pos armada tunggal tersebut berpusat di Benteng Jampea, Kecamatan Pasimasunggu.

Sementara itu, lokasi kebakaran berada di wilayah Ujung Jampea, Kecamatan Pasimasunggu Timur. Secara geografis, jarak antara pos damkar menuju lokasi kejadian membutuhkan waktu tempuh hingga satu jam perjalanan darat. Kendala jarak dan waktu inilah yang membuat respons pemadaman mustahil dilakukan secara cepat dan tepat saat status keadaan darurat terjadi.

Irwan, salah seorang warga yang menyaksikan langsung kepulan api di lokasi kejadian, mengecam keras ketimpangan fasilitas keselamatan ini. Ia menilai, menugaskan satu unit mobil damkar untuk mengover dua kecamatan dengan bentang geografis yang luas dan berjauhan adalah kebijakan yang tidak masuk akal.

“Jika kondisinya terus seperti ini, aset warga tidak akan pernah bisa terselamatkan saat ada kebakaran. Jarak dari Benteng Jampea ke tempat kami di Ujung Jampea ini memakan waktu satu jam. Begitu api membesar, bantuan armada baru tiba ketika semuanya sudah menjadi abu. Ini sudah menjadi kebutuhan yang sangat mendesak bagi kami, bukan lagi sekadar fasilitas tambahan,” keluh Irwan dengan nada kecewa.

Masyarakat setempat kini mendesak Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar untuk segera mengambil langkah konkret, baik dengan menambah jumlah armada maupun menempatkan unit pemadam baru secara merata di titik strategis, khususnya di wilayah Pasimasunggu Timur.

Beruntung, tidak ada korban jiwa ataupun luka-luka dalam musibah ini karena pemilik rumah berhasil menyelamatkan diri. Kendati demikian, kerugian material ditaksir mencapai puluhan juta rupiah mengingat hampir seluruh harta benda dan dokumen penting milik korban tidak sempat dievakuasi. Kebakaran ini menjadi alarm keras bagi pemangku kebijakan mengenai pentingnya pemerataan sarana mitigasi bencana di daerah kepulauan.(Tim)